16.5.08

AM Diam Bila Ketemu Tuannya

Pertanyaan:

AM gue nggacornya minta ampuunn, suara besar dan ngeplong-2, dan sekarang pernah saya dapetin si AM-ku teler.., waduuh...senengnya minta ampun dech.., trus problem nya gini.., si AM-ku kalo pas bunyi trus keliatan saya...dia jadi berhenti kicau.., tp kalo diliat orang lain si AM-ku enggak gubris.. trus aja dia kicau..., wah-wah jadi gemez dech saya.., gimana yaa Om-om cara ngatasinya. Perlu diketahui mmg secara harian saya yang ngerawat dia, pagi n malem (saat sblm ke kantor n slh datang ngantor). Tolong dech temen-2 sharing-experiances nya...., Makasih yaa..( Adhitya)

Jawab:

Itu problem umum Mas.

Ada dua kemungkinan AM diam kalau ketemu tuannya.

Pertama, takut. Biasanya dikarenakan trauma karena pernah merasa Anda sakiti/takuti. Bisa jadi pernah Anda pegang, atau Anda paksa2 masuk keramba dengan kayu dsb.

Kalau nggak ya, kedua, pengin bermanja. Untuk yang pengin bermanja ini biasanya karena sering dikasih makan (jangkrik misalnya) secara langsung dari tangan. Bisa juga sering Anda goda dengan tangan sampai2 dia seakan mau ngejar2 Anda untuk cari perhatian.

Solusinya, kalau karena takut ya cobalah Anda bersikap lebih lembut kepadanya.

Kalau karena bermanja, sekarang nggak usah anda goda2 dan kalau ngasih makan ya dikaramba dulu baru pakan (jangkrik) Anda masukkan. Jadi dia tidak merasa tergantung atau pengin bermanja kepada Anda. Ketergantungan menyebabkan dia akan turun tangkringan ketika Anda datang karena berpikir: “Nih bos gua datang.........pasti mau beri gua jangkrik. Turun ah........”, hehehehehe.


AK jantan butuh di-charge betina?

Pertanyaan:

Mohon pencerahan untuk kasus yg saya alami:

Beberap waktu yg lalu, saya mendapat anis kembang yg sedang mabung. Sebelum mabung, burung itu memang sudah oke. Setelah selesai mabung, si AK ini juga sudah rajin ngriwik, tapi belum ngeplong.

Suatu saat, saya titipkan ke temen yg punya AK jantan yg gacor dan juga AK betina. 2 hari saya ambil, dan ternyata jadi rajin bunyi; tidak hanya ngeriwik, tapi juga ngeplong2. Setelah beberapa waktu, tampak AK saya ini mulai ndak rajin lagi. Lalu saya coba charge di temen yg punya AK betina itu, dan hasilnya memang memuaskan.

Nah, 2 minggu yg lalu, AK betina temen saya itu dijual (FYI, harganya 400rb). Nah, imbasnya bagi saya, AK jadi males bunyi sekarang.

Apakah memang biar tetep gacor, AK butuh betina terus?

Terima kasih atas jawabannya. (penthet jagoan)

Jawab:

Singkat saja Mas, jawabannya memang "iya". Jadi, suara "cesssttt" AK betina, membuat AK jantan akan selalu mencoba merayu si betina dengan cara bernyanyi sekeras dan semerdu2nya. Banyak kasus memang seperti itu meskipun ada satu-dua AK yang bisa tancep ngerol terus meski tanpa betinaan. Itulah makanya banyak pemain AK membawa AK betina untuk men-charge burungnya sebelum masuk arena lomba.

Carikan saja betina AK. (Duto)


Agar burung tidak lepas

1. Perhatikan cantelan sangkar. Periksa apakah mur/bautnya benar2 sudah kencang. Selalu cek, setiap hari sebab kadang kalau mur/baut kendor, maka ketika ketiup angin, sangkar bergerak-gerak, goyang, memutar, maka sangkar bisa lepas dari cantelannya. . . . Blam. . . burung lepas. . . . .

2. Perhatikan pula gantungan pada gantangan yang kita pakai. Kalau menggunakan paku, apa benar pakunya nancap kencang; tidak karatan; tidak aus. Perhatikan dudukan gantungan; kalau kayu, bambu dan sebagainya, apa tidak lapuk; tidak keropos dsb. 3. Usahan menggantungkan sangkar dengan menyantelkannya pakai tangan langsung; kalau tinggi pakai alat bantu kursi yang kokoh berdiri. Kalau terpaksa pakai tongkat yang berpaku/berkawat melengkung maka perhatikan keseimbangan beban sangkar; juga kekuatan sangkar. Jika tidak seimbang berisiko sangkar memutar saat diangkat ke arah gantangan. Jika kerangka sangkar tidak kuat, juga berisiko patah dan sangkar jatuh berdebam. . .

4. Buat pintu sangkar dengan engsel (kebanyakan model gesekan naik turun) yang selicin mungkin. Dengan demikian, meskipun pintu tidak diberi beban (kalau diberi, lebih bagus sebagaimana saran Pak Fortuna), dia akan otomatis geser ke bawah; nutup. Pintu juga perlu diberi kancingan sehingga tidak berisiko terbuka saat kita membuka/mengangkat kerodong. 5. Usahakan penutup sangkar bagian bawah (yang berupa jeruji maupun yang berupa lembaran papan/tripleks/seng) bisa dikancingkan (dan selalu dikancingkan seusai sangkar dibersihkan), sehingga kalau sangkar dalam kondisi miring, penutup tersebut tidak membuka sendiri.

6. Tidak memberi/mengganti makan-minum secara langsung ketika burung masih di sangkar; usahakan burung sudah dimasukkan karamba. Kalau terpaksa, maka lakukan itu di ruang tertutup atau usahakan tangan kiri (kanan) menjaga pintu bagian bawah yang terbuka ketika tangan kanan (kiri) masuk sangkar. Hal ini terutama perlu diperhatkkan untuk sangkar2 model bulat dimana bukaan pintu sampai di dekat dasar sangkar dan sangat rawan diterobos burung.

7. Selain sangkar, perhatikan pula karamba Anda. Apakah pintunya bisa melorot sendiri begitu kita lepaskan atau masih terlalu seret sehingga perlu ditekan. Usahakan bisa licin dan menutup sendiri. 8. Sediakan selalu semprotan yang didalamnya sudah ada cairan sabun/sampho (sebagaimana juga disarankan Mbak Dwi) untuk menyemprot burung yang lepas. Dan sekadar cerita saja: karena pengetahuan ini, saya pernah menangkapkan burung AK-nya Mas Samino, teman penangkar Solo, dua ekor sekaligus (sepasang) dalam waktu yang relatif cepat. Dan berkat itu. . . hehehehehe. . . . saya dapat MB anakan dengan harga diskon besara2an. . . . Cara itu biasanya memang efektif untuk burung yang sudah mapan/jinak.

9. Sediakan juga pulut/getah bendo atau getah nangka (yang bagus getah bendo skarena lengketnya luar biasa tetapi mudah dibersihkan dari bulu burung) seperti disarankan Pak Fortuna. Sediaan pulut, tentu saja sekalian dengan tongkat yang kecil, panjang dan ringan, yang bisa menjangkau ketinggian atap rumah/pepohonan. Caranya, rekatkan pulut ke separuh bagian lidi yang diikatkan di ujung tongkat. Lekatkan jangkrik (tidak mutlak) ke bagian tengah lidi; sorongkan ke arah si burung secara perlahan2 (ini biasanya juga hanya efektif untuk burung yang sudah mapan/jinak).

10. Lebih dari itu, jangan terlalu PD akan kondisi sangkar kita sebelum kita benar2 mengeceknya setiap hari; setiap saat. (Duto)


16.5.06

Cara menjinakkan burung

Tanya:

Saya punya burung baru, bakalan hutan. Girasnya minta ampun. Bagaimana caranya untuk menjinakkan? (Henry)

Jawab:

Untuk menjinakkan burung sudah banyak tips diberikan oleh kawan-kawan kita. Dalam proses wajar, burung bisa jinak dalam waktu relatif lama. Kalau mau agak cepet, kuncinyanya pada diri kita sendiri: sempat apa nggak. Kalau Anda sempat, lakukan hal-hal berikut ini.

1. Dari sisi tempat

Kalau Anda punya burung terlalu liar, gantung saja agak tinggi di tempat ramai, ya di tempat ramai, atau yang biasa dilalulalangi anggota keluarga. Jangan justru digantung di tempat tersembunyi karena Anda takut burung kelabakan. Biasakan itu selama sekitar sepekan. Setelah itu, posisi agak diturunkan. Lakukan selama sepekan, turunkan lagi, sepekan mendatang turunkan lagi sampai posisi normal. Kalau rumah Anda dekat jalan raya/kampung, biasakan gantung burung di halaman rumah dekat jalan itu (tapi awas maling). Kalau burung Anda memang liar banget dan Anda melakukan saran saya ini, saya jamin burung Anda bakal berdarah-darah di sekitar paruhnya, juga bulunya rusak. Tapi no problem. Itu proses normal yang harus kita lalui. Luka bakal kering, bulu bakal tumbuh lagi.

2. Dari sisi memandikan

Biasakan memandikan burung dengan cara dikaramba dengan waktu agak lama. Kalau dia nggak mau mandi sendiri, semprot pakai semprotan sampai basah kuyup. Nggak masalah dia kelabakan kesana-kemari saat disemprot. Benar-benar basah kuyup sampai menggigil kedinginan dan nggak kelabakan lagi. Biarkan dulu dia di karamba, sampai bulu agak kering. Tapi kalau Anda tergesa-gesa mau pergi, masukkan langsung ke sangkar juga nggak apa-apa, dan gantung di tempatnya. Kalau sempat, lakukan "pemandian" itu pagi dan sore hari.

3. Dari sisi makanan (bisa dilakukan pada hari libur/menyempatkan diri libur)

Kosongkan tempat pakan menjelang malam. Biarkan pada pagi hari dia kelaparan. Dalam kondisi itu, sorongkan jangkrik dengan lidi di tangan kita. Kalau dia nggak mau mematuk jangkrik, tarik lagi. Lima atau sepuluh menit lagi kita lakukan hal sama. Kalau masih nggak mau, tunda lagi. Begitu seterusnya, sampai sekitar pukul 10.00. Kalau sampai jam itu belum mau juga, tinggalkan jangkrik di tempat pakan biar dimakan. Setelah dia makan satu jangkrik, sorongkan pakai lidi satu jangkrik lagi. Kita goda dia beberapa saat mau mendekat atau tidak. Begitu jangkrik disambar, kita coba lagi, sampai burung agak kenyang. Setelah itu tempat pakan kita isi dengan kroto (untuk murai dan kacer) satu sendok teh saja. Siang hari, kita coba-coba lagi memberi jangkrik dengan lidi, dan begitu pula sore hari. Setelah terbiasa dengan lidi, coba langsung diangsurkan dengan tangan. Proses ini kuncinya adalah membuat burung kelaparan dan merasa tergantung pada manusia dan "terpaksa" harus berani kepada manusia. Karena kuncinya membuat burung lapar, senantiasa kosongkan wadah pakan dan hanya beri secukupnya ketika sudah dilatih makan jangkrik yang kita tusuk lidi/langsung dari tangan kita.

Kalau sekadar untuk tetap bernafas sehat, empat-lima jangkrik sudah cukup kita berikan pada pagi hari, dua-tiga jangkrik pada siang hari, dan empat - lima jangkrik pada sore hari, dan semuanya tanpa ada makanan tambahan di wadah pakan.

---Itulah sejumlah cara menjinakkan burung yang bisa kita pilih. Kalau ketiga cara itu bisa kita laksanakan/kombinasikan berbarengan, maka dalam waktu nggak sampai sebulan burung liar sudah jadi relatif jinak.

Menjinakkan burung dengan cara itu memang membawa sejumlah konsekuensi, misalnya burung yang semula sudah mau ngriwik/bunyi, jadi agak macet karena stres. Burung yang semula mulus, jadi luka atau rusak bulu. Tapi semua adalah bagian dari proses. Tinggal kita mau pakai jalan cepat atau jalan biasa. Orang Jawa bilang, jer basuki mawa bea, semua kebaikan perlu biaya dan biaya ini bisa bermacam-macam bentuknya. Ok?

(Tulisan ini juga dimuat di kicaumania.org)