Tampilkan postingan dengan label Anis Merah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anis Merah. Tampilkan semua postingan

16.5.08

Harga burung di tempat asalnya kok mahal?

Pertanyaan:

Ada yang tahu nggak apa sebabnya harga burung AM dan AK di “sana” lebih mahal?

Jawab:

Saya tidak tahu yang disebut “di sana” itu di mana, cuma saya kira2 itu di daerah Nusa Tenggara atau Bali. Untuk AK (Nusra) atau AM (Bali), kalau kita beli di sana langsung (terutama yang sudah bunyi dan jinak), harganya memang relatif mahal. Hal2 yang saya ketahui, antara lain adalah soal jumlah burung yang dibeli (juga penjuualnya) dan juga berkaitan dengan musim (musim beranak).

Kalau kita beli satu atau dua burung dari sana memang dibandrol mahal, hampir sama atau malah lebih mahal dibanding di Jawa. Sebab, biasanya, yang punya burung cuma satu atau dua ekor (simpanan) bukanlah orang2 yang berburu anakan (untuk AK) di hutan. Jadi, si empunya itu juga adalah penggemar/penghobi atau minimal pedagang lokal. Juga, burung itu adalah burung pilihan sebelum “rombongan”-nya di bawa ke Jawa. Jadi tidak mengherankan kalau harga relatif sama mahalnya dengan di Jawa. Apalagi, mereka tahu yang beli adalah penghobi asal Jawa...uhhh...mereka lebih jual mahal. Sementara itu, para pengepul burung dari Jawa (Jakarta, Sby, Smg dll), kalau membeli burung langsung dari para pemburu/penangkap AK di hutan sana juga dalam jumlah banyak karena memang sedang musim. Para pemburu tidak mau menahan burung mereka lama2 karena selain berisiko mati juga perlu memberi makan yang biayanya nggak murah. Karena beli dalam jumlah banyak dan pas musim, maka harganya sangat2 murah dan sampai di Jawa pun harganya masih murah menurut ukuran para penghobi/pembeli kayak kita2 ini. Para pengepul ini tidak akan pergi ke Nusra sekadar untuk membeli satu-dua ekor apalagi pas tidak musimnya sebab hitungan harganya nggak akan masuk. Sama halnya dengan kasus AM. Untuk diketahui, AM asal Bali kebanyakan adalah hasil semi-penangkaran. Yakni, ada daerah tertentu yang memang sebagai wilayah perkembang biakan AM. AM di sana beranak-pinak setahun sekali dan dari satu generasi ke generasi tidak pernah pindah-pindah hutan/tempat. Jadi, masing2 pemilik kaplingan kebun/ladang/hutan seakan-akan memiliki “penangkaran hutan” untuk AM. Mereka, setiap tahun, “memanen” anakan AM dari kebun/hutan2 mereka masing2, yang satu dengan yang lainnya nggak akan “main jarah” (kayak di Jawa?). Kalau pas musim, satu kawasan ya panen semua dan harganya bisa mejadi murah, apalagi yang beli sana adalah orang2 lama (pedagang langganan).

Mengapa AM di sana tidak punah meski setiap tahun dipanen? Itu karena para pemilik hutan itu bukan orang2 serakah yang memanen semua anakan AM. Pada setiap sarang, hanya diambil satu atau dua ekor (kalau beranak 3 diambil 2, kalau beranak 2 diambil satu). Dengan cara seperti ini, si indukan AM tidak merasa terganggu karena (mungkin) beranggapan bahwa anaknya yang dua (jika beranak 3) atau yang satu (jika beranak 2), jatuh dan mati atau dimakan tikus hutan dll. Oleh karena itu, tahun berikut mereka pasti akan datang lagi ke tempat itu untuk beranak lagi. Demikian kiranya sekelumit cerita yang bisa saya sharingkan di sini. Barangkali ada kawan lain yang bisa menambahi.

(Jawaban atas pertanyaan Om Fortuna di milis BBC)




AM saya jantan apa betina?

Pertanyaan:

Apakah AM saya jantan atau betina? Burung AM merah saya kepala nya sedikit kecil dan pernah beberapa kali ngeper ketika tangan di dekatkan

dan ketika dijemur sendirian, tapi beberapa kali saya ketemukan dengan anis merah yang bunyi dan lagi teler di Kios Aryo, dan juga AM tetangga saya yang lagi teler, AM saya tidak mau ngeper, menurut mas Aryo AM saya itu jantan karena tidak ngeper pendapat ini juga saya pernah baca entah di mana. Apakah ada pendapat pakar AM yang lain soal kasus ini.

(Samuel G Setiyadi)

Jawab:

Pak Sam,

Ada beberapa point yang bisa saya sampaikan menurut pengalaman selama ini:

1. AM betina pasti ngeper tapi tidak semua AM yang ngeper betina.

2. Ngeper untuk betina tidak selalu menunjukkan burung sedang birahi, tetapi sekadar untuk menarik perhatian (bisa jadi menarik perhatian makhluk di sekitarnya, termasuk pemeliharanya/ orang lain dsb).

3. Burung ngeper adalah burung yang sedang tidak dalam kondisi stress/takut.

4. Bisa jadi AM Anda betina dan ngeper sekali-sekali dalam kondisi ingin menarik perhatian orang; dan justru tidak ngeper ketika melihat AM jantan yang ngerol2 karena memang belum birahi atau justru takut2.

5. AM betina dan sedang birahi (dewasa, fit/tidak stress) pasti ngeper jika didekatkan AM jantan dewasa (apalagi bunyi).

6. Fisik AM tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan jantan/betina kecuali Anda pegang dan dilihat kloakanya sekaligus diraba tulang supitnya (dua tulang penggapit kloaka/tulang pinggul?). Kalau antar tulang supit relatif longgar sekaligus kloakanya besar/memerah, kemungkinan besar betina. Kalau sempit dan kloaka rapat, kemungkinan besar jantan atau bisa juga betina tapi masih muda.

7. Untuk mengujinya, bisa digunakan alat sexing-detection/ test-sexing meski tingkat keakuratannya hanya sekitar 75%. Atau bisa juga digunakan tali berbandul logam (untuk teknis pemakaiannya, sudah pernah dibahas di milis KM.)

8. Banyak AM betina juga bunyi. Ada yang variatif (paling tidak, kawan saya pernah punya karena terbukti kemudian dia nelor2 melulu; sayang waktu itu belum ada keinginan menangkarnya; sekarang sudah bablas nggak tahu dijual kemana...).

9. Tidak ada yang bisa memberi jaminan untuk kepastian jantan betina AM kecuali AM peliharaan lama yang telah dipastikan perilaku dan suaranya. Artinya, semua itu perlu waktu.

10. Itulah salah satu seni memelihara burung: Merawat dengan penuh tanda tanya... jantan...betina... berkicau... membisu...hidup...mati...dsb-dsb.

11. Sabar....

Semoga bermanfaat.


AM trotol vs dewasa

Tanya:

Apakah yang mempunyai peluang sampai bunyi gacor, Anis merah yang di beli dari Anakan trotolan atau Anis merah yang sudah Dewasa, kalau dari anakan trotolan butuh berapa lama sampai gacor. karena saya punya anis merah pelihara dari Trotolan sesudah 4 bulan hanya kadang- kadang ngriwik karena bosan akhirnya saya jual saja. (Samuel)

Jawab:

Saya bukan pakar tetapi mau jawab berdasar pengalaman. Jawabannya adalah trotolan. Muda hutan sulit jinaknya dan kalau jinak, mudah stres. Yang dari trotolan aja kalau stres sulitnya minta ampun untuk memulihkannya, apalagi mudah hutan huuuuuu...bener2 huh... Mas.

Kalau soal beli trotolan baru 4 bulan tapi cuma ngriwik, memang nggak heran Mas. Kebanyakan, sehabis trotol baru ngeplong sekali2. Ada yang istimewa memang (tapi langka, atau 1:1000 Mas). Nah, untuk AM memang harus sabar. Kalau mau segera, ya cari saja yang sudah bunyi, dan bagus lagi yang sudah gacor. (Duto)

Anis Merah saya teler di tengah..

Pertanyaan:

Adakah yang bisa bantu saya untuk membuat anis merah agar telernya pada posisi di tengah tangkringan? Anis merah saya ini kalau teler knapa mesti di pinggir tangkringan ya? Shg saat membuang kekiri/kanan disalah satu sisinya selalu mentok ke jeruji. Jadi kelihatan nggak seimbang lebar buangan antara yg kiri dan kanannya.... (Widodo3C )

Jawab:

Hehehehe, manusia memang nggak ada puasnya ya. Yang punya AM bisu pengin bunyi; yang sudah bunyi pengin teler; yang sudah teler, eh masih kurang..........gimana telernya bisa ditengah-tengah.........

Mas Widodo, AM teler di pinggir itu juga merupakan keunikan tersendiri loh. Apalagi kalau pas teler ke arah jeruji bisa kayak orang mabuk menabrak tembok, dan tiba2 neler lagi ke arah sebaliknya... nabrak lagi... balik lagi...nabrak lagi...dst... itu malah bisa bikin orang gemes melihatnya.

Nggak usah pusing2 mikirin burung supaya teler di tengah. Kalau Anda pengin AM teler di tengah, ya tentunya ada rekayasa untuk tangkringannya. Bisa saja tangkringan utamanya dibuat leter T seperti tangkringan murai batu. Atau seperti tangkringan burung perkutut... dsb...dsb... tapi apa ya perlu.

Sudahlah nikmati saja dan bersyukurlah AMnya mau teler. Soal teler di pinggir, itu malah bisa menarik perhatian juri kalau ditarungkan di lomba. Yakin saja. (Duto)


Burung saya kok suka salto

Tanya:

Mau nanya ni sama sapa yg bisa bantu pentet kalau di gantang sering salto and galak sekali kenapa ya, apa terlalu birahi. bagaimana cara menghilangkan tingkah salto nya. (Syafrizal)

Jawab:

Berdasarkan pengalaman, nggak bisa menghilangkan gaya salto pentet. Kalau tangkringan dimepet atas, ruang gerak pentet jadi sempit, akibatnya pentet malah suka di bawah terus.

Hanya saja, kita tidak perlu merisaukan pentet yang suka salto. Sejumlah pentet jawara juga suka salto, bahkan begitu selesai salto, biasanya keluar tembakan2nya. Selama burung rajin bunyi, salto2 nggak apa2. Begitu salto lalu nembak2, salto-nembak2...., kalau jadi pola, malah bagus. Kalau Anda merasa risih melihat pentet salto2, ya kalau mendengarkan tidak usah sembari dilihat. Dengarkan saja, dan percayalah, kalau dia rajin bunyi dengan tembakan2 yang dahsyat, ke lomba pun OK.

Kalau soal galaknya, bisa dikurangi dengan rajin menyemprotnya. Untuk mengurangi makanan ekstra (jangkrik dsb) berisiko membuat pentet nggak lagi rajin bunyi.

Pentet galak cuma bikin pusing kalau kita pas mau mengganti minum-pakan karena sering mematuk. Setelah itu ya, nggak ada masalah. Makanya, kalau mau memasukkan tangan, kasih dulu jangkrik itu pentet. Dengan paruh berisi jangkrik, biasanya dia nggak akan mengejar tangan kita yang masuk ke sangkar. Cuma perlu dibedakan antara galak dan birahi. Kalau birahi, belum tentu galak, tetapi selalu nabrak2 pengin ngejar jika ada orang lewat.

Untuk menguranginya, juga bisa main spray dg air. Coba saja ditreatment, dalam dua-tiga hari, biasakan lewat dekat pentet sembari membawa semprotan air. Begitu dia teot-teot mengejar/turun pas Anda lewat, semprot dg air. Begitu terus nanti dia akan “kapok” dan nggak negjar2 lagi kalau ada orang lewat. Juga, jangan biasakan memberi jangkrik/makanan lain, langsung dengan menyodorkan di tangan. Hal itu membuat burung terbiasa bermanja dan akan turun dari tangkringan begitu orang (terutama yang biasa ngasih makan dengan cara menyorongkan) lewat. Demikian, semoga bermanfaat. (Duto)

AM nelor

Tanya:

Mas Duto.... bila menilik usia AM saya yg sudah hampir 2 tahun,, semestinya bila betina dia sudah bertelur toh ?? (Willianto Putro)

Jawab:

Saya sepakat nih Mas Willy, kalau betina seharusnya sudah nelor. Cuma perlu dicatat bahwa tidak semua betina yang diperlihara di sangkar nelornya mulusZ seperti seharusnya. Sebab, dengan keterbatasan kapur (pembentuk cangkang telor) bisa jadi si betina nelornya cuma kayak cairan (cangkang terlalu tipis dan karenanya pecah) sehingga kita nggak memperhatikan bahwa itu sesungguhnya telor dan kita cuma mengira itu kotoran burung pada umumnya cuma agak basah dan berlendir.

Nah, jika pakan mencukupi, tentulah betina usia 2 tahunan sudah nelor, baik di-jantan-i maupun tidak. Untuk AM Mas Willy, coba ketika rontok nanti dimaster pakai suara2 lain yang macem2. Siapa tahu lagunya nambah dan tidak monoton.

Soal kepastian jantan-apa betina, tentunya saya juga tidak bisa memastikan. (Duto)

AM dan jangkrik

Tanya:

Saya pingin nanya nih, AM saya yang mulai ngeriwik musti kena jangkrik 8 ekor pagi hari, baru mau ngeriwik.... ada cenderung betina enggak OM?..soalnya yang saya tahukan cukup 3-4 ekor aja, sudah tetep ngeriwik ya OM? (Nicho)

Jawab:

Intinya begini, masing2 burung itu karakternya berbeda2; satu burung satu karakter. Artinya, kalau Anda punya 1000 burung, Anda musti menghadapi 1000 karakter. Hal2 yang saya sampaikan adalah hal2 yang umum. Misalnya saja, secara umum AM ya extrafoodingnya ya cukup 2-2 jangkrik pagi-sore, dengan kroto satu sendok teh seminggu dua kali; buah (pisang/apel/pir dsb; rutin lebih baik) dan cacing (setiap hari; 3-4 ekor ukuran selidi dengan panjang 10 cm; atau setara dengan itu); dan voor (tersedia selalu; sering diganti/tidak jamuran atau kena kotoran si burung). Tetapi ada juga yang mau bunyi kalau sudah diberi 8 jangkrik atau bahkan 15 jangkrik; atau ada juga yang nggak mau bunyi kalau diberi jangkrik dsb-dsb. Jadi, kalau AM Anda mau bunyi setelah digenjot 8 jangkrik, ya itu memang mau dia, nggak apa2. Kroto harus setiap hari misalnya, kalau itu sudah jadi kebiasaan dan membisu kalau diubah, ya itulah risiko memberi makan kepada burung secara berlebih karena harus diteruskan kecuali kita pengin burung kita jadi membisu seribu bahasa.

Ada juga yang biasanya harus mandi karamba dulu sebelum mau teler-tancep dsb-dsb.

Nah untuk AM punya Anda, ya pelihara saja sebagaimana biasanya, kecuali Anda akan mengubah kebiasaan itu, tentunya ya perlahan-lahan. Misalnya, selama tiga hari berturut-turut, jangkrik cukup 7 ekor/hari; tiga hari berikut, 6 ekor/hari dst sambil dipantau perkembangannya sampai sehari cukup 2-2 pagi-sore. Kalau penampilan (ngriwik) hanya berukurang sedikit, nggak apa-apa, teruskan. Kalau justru menjadi benar2 ngedrop, ya sudah kembalikan ke kebiasaan lama, nggak perlu pusing2.

Intinya, supaya kita bisa happy dengan burung, si burung haruslah happy duluan.( Duto)

AM bunyi dan teler nggak stabil

Tanya:

Saya baru aja beli anis merah, tolong bantuannya dong. Gmn sih cara pelihara anis merah supaya cepat berkicau.

Soalnya kata teman2 saya burung anis merah membutuhkan waktu Tahunan untuk berkiccau.

Terima kasih atas bantuannya. (Ali Yusuf)

Jawab:

AM bunyi dan teler tidak stabil biasanya karena:

1. Perawatan yang berubah2, tidak teratur dan tidak konsisten (pakan, EF, mandi, jemur).

Kalau jemur cuma 1 kali seminggu dan bunyi terus, nggak usah dilatih untuk jemur setiap hari. Kalau mandi biasa disemprot dan nggak mau dikaramba, ya nggak usaha sekali2 dikaramba sambil dipaksa2 masuk ke keramba. Kalau diberi makan pakan murahan sudah OK, nggak usah diganti2 pakan lain dengan asumsi “biar lebih bagus”. Orang yang suka opor atau soto saja kadang emoh diberi hotdog, pizza atau kue keju kok, meski konon gizinya lebih tinggi.

Kalau biasanya dengan jangkrik 1 sehari sudah OK, nggak usaha digeber dengan 4-5 jangkrik dengan asumsi biar lebih OK.

Orang burungnya nggak suka repot2 kok kita malah yang lebih repot dengan asumsi “biar lebih bagus”. Kalau Anda merasa memang perlu mengubah menu pakan, pola jemur, mandi dan sebagainya, ya diubah saja secara perlahan dan setelah itu dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan serta jangan diubah2 lagi.

Selama masa pengubahan, pasti akan ada perubahan konsistensi dalam bunyi dan perilaku burung. Ya sudah, tunggu saja sampai dia mapan dan bunyi secara stabil.

Berapa lama waktunya? Ya tergantung. Yang jelas, bukan dalam waktu sehari dua hari. Bisa sepakan, bisa sebulan dan sebagainya.

Kita sering menjadi uring2an pelihara burung karena kita sendiri tidak pernah konsisten. Dengar nasihat A, dituruti. Nasihat B dituruti, tapi diubah lagi karena nasihat C dan sebagainya. Nah, kemudian kitab berpikir “wah ini burung kok sulit sekali ya....” Padahal, kenyataannya kita sendiri yang “sulit” dan “nggak berprinsip”.

Seandainya AM bisa ngomong, maka dia akan berkata, “Wah si bos ini gimana sih, orang kok bingungan. Udah enak2 makanan yang kemarin kok disuruh makanan kayak gini......hoeeek.......” Maka, ngambeklah dia.

Hehehehe.

2. Karena masih muda dan kalau diibaratkan manusia anak2, dia belum punya “pegangan” dan belum menemukan “kesenangan”. Celakanya lagi, sudah AMnya muda, belum ada satu setengah tahun misalnya, sudah harus gonta2 makan dan perawatan. Weleh-weleh....

Soal AM nggak seperti MB, ya lain donk. Itulah bedanya burung fighter dan bukan. Sejumlah burung disebut fighter karena sangat peka dengan bunyi2an di sekitarnya apalagi ketemu sesama fighter. Jangankan ketemu burung lain, dengar suara tokek di malam hari, kadang2 MB langsung menyahut dan bernyanyi nggak kalah seru kok.

Nah, AM bukanlah burung fighter, seperti halnya MB, kacer, decu, larwo atau tledekan/sulingan.

Soal bagaimana burung cepat berkicau, ya semuanya melalui proses. Nggak bisa kita beli burung yang bisa instan kita rawat dan langsung OK. Kecuali tentunya, kita beli burung yang sudah jadi, burung kelas latber ataupun burung lapangan.

Makanya, ya itu, sabar dan sabar. (Duto)

AK jantan butuh di-charge betina?

Pertanyaan:

Mohon pencerahan untuk kasus yg saya alami:

Beberap waktu yg lalu, saya mendapat anis kembang yg sedang mabung. Sebelum mabung, burung itu memang sudah oke. Setelah selesai mabung, si AK ini juga sudah rajin ngriwik, tapi belum ngeplong.

Suatu saat, saya titipkan ke temen yg punya AK jantan yg gacor dan juga AK betina. 2 hari saya ambil, dan ternyata jadi rajin bunyi; tidak hanya ngeriwik, tapi juga ngeplong2. Setelah beberapa waktu, tampak AK saya ini mulai ndak rajin lagi. Lalu saya coba charge di temen yg punya AK betina itu, dan hasilnya memang memuaskan.

Nah, 2 minggu yg lalu, AK betina temen saya itu dijual (FYI, harganya 400rb). Nah, imbasnya bagi saya, AK jadi males bunyi sekarang.

Apakah memang biar tetep gacor, AK butuh betina terus?

Terima kasih atas jawabannya. (penthet jagoan)

Jawab:

Singkat saja Mas, jawabannya memang "iya". Jadi, suara "cesssttt" AK betina, membuat AK jantan akan selalu mencoba merayu si betina dengan cara bernyanyi sekeras dan semerdu2nya. Banyak kasus memang seperti itu meskipun ada satu-dua AK yang bisa tancep ngerol terus meski tanpa betinaan. Itulah makanya banyak pemain AK membawa AK betina untuk men-charge burungnya sebelum masuk arena lomba.

Carikan saja betina AK. (Duto)


16.5.06

Cara menjinakkan burung

Tanya:

Saya punya burung baru, bakalan hutan. Girasnya minta ampun. Bagaimana caranya untuk menjinakkan? (Henry)

Jawab:

Untuk menjinakkan burung sudah banyak tips diberikan oleh kawan-kawan kita. Dalam proses wajar, burung bisa jinak dalam waktu relatif lama. Kalau mau agak cepet, kuncinyanya pada diri kita sendiri: sempat apa nggak. Kalau Anda sempat, lakukan hal-hal berikut ini.

1. Dari sisi tempat

Kalau Anda punya burung terlalu liar, gantung saja agak tinggi di tempat ramai, ya di tempat ramai, atau yang biasa dilalulalangi anggota keluarga. Jangan justru digantung di tempat tersembunyi karena Anda takut burung kelabakan. Biasakan itu selama sekitar sepekan. Setelah itu, posisi agak diturunkan. Lakukan selama sepekan, turunkan lagi, sepekan mendatang turunkan lagi sampai posisi normal. Kalau rumah Anda dekat jalan raya/kampung, biasakan gantung burung di halaman rumah dekat jalan itu (tapi awas maling). Kalau burung Anda memang liar banget dan Anda melakukan saran saya ini, saya jamin burung Anda bakal berdarah-darah di sekitar paruhnya, juga bulunya rusak. Tapi no problem. Itu proses normal yang harus kita lalui. Luka bakal kering, bulu bakal tumbuh lagi.

2. Dari sisi memandikan

Biasakan memandikan burung dengan cara dikaramba dengan waktu agak lama. Kalau dia nggak mau mandi sendiri, semprot pakai semprotan sampai basah kuyup. Nggak masalah dia kelabakan kesana-kemari saat disemprot. Benar-benar basah kuyup sampai menggigil kedinginan dan nggak kelabakan lagi. Biarkan dulu dia di karamba, sampai bulu agak kering. Tapi kalau Anda tergesa-gesa mau pergi, masukkan langsung ke sangkar juga nggak apa-apa, dan gantung di tempatnya. Kalau sempat, lakukan "pemandian" itu pagi dan sore hari.

3. Dari sisi makanan (bisa dilakukan pada hari libur/menyempatkan diri libur)

Kosongkan tempat pakan menjelang malam. Biarkan pada pagi hari dia kelaparan. Dalam kondisi itu, sorongkan jangkrik dengan lidi di tangan kita. Kalau dia nggak mau mematuk jangkrik, tarik lagi. Lima atau sepuluh menit lagi kita lakukan hal sama. Kalau masih nggak mau, tunda lagi. Begitu seterusnya, sampai sekitar pukul 10.00. Kalau sampai jam itu belum mau juga, tinggalkan jangkrik di tempat pakan biar dimakan. Setelah dia makan satu jangkrik, sorongkan pakai lidi satu jangkrik lagi. Kita goda dia beberapa saat mau mendekat atau tidak. Begitu jangkrik disambar, kita coba lagi, sampai burung agak kenyang. Setelah itu tempat pakan kita isi dengan kroto (untuk murai dan kacer) satu sendok teh saja. Siang hari, kita coba-coba lagi memberi jangkrik dengan lidi, dan begitu pula sore hari. Setelah terbiasa dengan lidi, coba langsung diangsurkan dengan tangan. Proses ini kuncinya adalah membuat burung kelaparan dan merasa tergantung pada manusia dan "terpaksa" harus berani kepada manusia. Karena kuncinya membuat burung lapar, senantiasa kosongkan wadah pakan dan hanya beri secukupnya ketika sudah dilatih makan jangkrik yang kita tusuk lidi/langsung dari tangan kita.

Kalau sekadar untuk tetap bernafas sehat, empat-lima jangkrik sudah cukup kita berikan pada pagi hari, dua-tiga jangkrik pada siang hari, dan empat - lima jangkrik pada sore hari, dan semuanya tanpa ada makanan tambahan di wadah pakan.

---Itulah sejumlah cara menjinakkan burung yang bisa kita pilih. Kalau ketiga cara itu bisa kita laksanakan/kombinasikan berbarengan, maka dalam waktu nggak sampai sebulan burung liar sudah jadi relatif jinak.

Menjinakkan burung dengan cara itu memang membawa sejumlah konsekuensi, misalnya burung yang semula sudah mau ngriwik/bunyi, jadi agak macet karena stres. Burung yang semula mulus, jadi luka atau rusak bulu. Tapi semua adalah bagian dari proses. Tinggal kita mau pakai jalan cepat atau jalan biasa. Orang Jawa bilang, jer basuki mawa bea, semua kebaikan perlu biaya dan biaya ini bisa bermacam-macam bentuknya. Ok?

(Tulisan ini juga dimuat di kicaumania.org)